Asuransi konvensional dan syariah: Pengertian, Perbeda, Fungsi, Tujuan

Artikel makalah tentang asuransi konvensional dan syariah, beserta pengertian, penjelasan dan perbedaan asuransi konvensional dan syariah. Berikut penjelasannya. Asuransi berasal dari bahasa Belanda assurantie atau asuransi (bahasa Inggris).

Menurut bahasanya, assurantie sendiri sebenarnya bukan istilah Belanda, melainkan istilah Latin, yang kemudian dalam bahasa Belanda diterjemahkan sebagai securare, yang berarti meyakinkan orang. Secara keseluruhan, kata penjaminan dan asuransi adalah pertanggungan atau perlindungan benda dari bahaya yang menimbulkan kerugian.

Asuransi Konvensional dan Syariah

Apa Pengertian Asuransi Konvensional?

Asuransi konvensional adalah asuransi berdasarkan perjanjian jual beli, atau asuransi ini adalah asuransi berdasarkan dana investasi yang bebas menggunakan aturan dasar tertentu. Asuransi ini mengembangkan misi perusahaan di bidang ekonomi dan sosial.

Apa Pengertian Asuransi Syariah?

Asuransi syariah adalah asuransi bisnis yang melindungi dan membantu banyak orang, hal ini dilakukan dengan berinvestasi pada aset baru atau baru.

Perbedaan Antara Asuransi Syariah dan Konvensional

Dalam perkembangannya, asuransi syariah memiliki banyak keunggulan dan kelebihan jika dibandingkan dengan asuransi konvensional. Hal ini tentu saja membuat adanya perbedaan mendasar di antara kedua jenis asuransi tersebut.

Berikut ini adalah perbedaan dari asuransi syariah dan asuransi konvensional secara umum :

1. Perjanjian

  • Syariah: Menggunakan akad hibah dengan konsep gotong royong, keduanya tidak mengharapkan imbalan apapun.
  • Konvensional: Sama halnya dengan transaksi jual beli, sama-sama mengharapkan untung yang maksimal dan kerugian yang sekecil-kecilnya.

2. Dana

  • Syariah: Dana dimiliki oleh semua peserta asuransi. Perusahaan hanya sebagai pengelola dana, tidak berhak memilikinya.
  • Konvensional: Dana premi yang dibayarkan menjadi milik perusahaan karena konsepnya adalah jual beli, jadi Anda bebas menggunakannya untuk apa saja asalkan sesuai dengan kesepakatan.

3. Manajemen dana

  • Syariah: Dana diolah semaksimal mungkin untuk kepentingan peserta asuransi. Manajemen juga lebih transparan.
  • Konvensional: Perusahaan secara sepihak menetapkan premi dan biaya lainnya, seperti administrasi, untuk memaksimalkan keuntungan.

4. Bagi hasil

  • Syariah: Keuntungan dari pengelolaan dana asuransi akan dibagi rata antara semua peserta dan perusahaan asuransi.
  • Konvensional: Keuntungan dari kegiatan asuransi sepenuhnya dimiliki oleh perusahaan.
Baca Juga :  Tujuan AFTA

5. Ada zakatnya

  • Syariah: Peserta diwajibkan membayar zakat yang diambil dari total keuntungan perusahaan.
  • Konvensional: Tidak ada zakat.

6. Pemantauan dana

  • Syariah: Ada Dewan Pengawas Syariah (DPS) di setiap perusahaan berbasis syariah, termasuk perusahaan asuransi. Tugasnya adalah mengawasi perusahaan agar selalu mematuhi prinsip syariah dalam mengelola dana asuransi. DPS bertanggung jawab kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI).
  • Konvensional: Dana dikendalikan secara internal oleh manajemen, tidak ada pihak luar yang bisa masuk.

7. Status dana

  • Syariah: Dana yang disimpan oleh peserta asuransi dapat ditarik kembali jika tidak dapat melanjutkan pembayaran selama perjalanan. Hanya ada potongan kecil berupa dana tabarru dalam hal ini.
  • Konvensional: Jika Anda tidak mampu membayar premi, semua dana yang telah disetorkan akan hangus atau menjadi milik perusahaan.

8. Jenis investasi (unit link)

  • Syariah: Dana asuransi unit link hanya boleh diinvestasikan di area yang tidak dianggap haram. Investasi di perusahaan yang berhubungan dengan perjudian, misalnya, dilarang.
  • Konvensional: Dana bebas untuk diasuransikan dalam bidang apa pun, asalkan berpotensi menguntungkan

Kedelapan poin ini sedikit banyak menjelaskan perbedaan antara asuransi syariah dan konvensional. Yang pasti, asuransi syariah membidik target konsumen yang jelas, yakni umat Islam.

Namun jangan salah, non muslim juga bisa mengikuti asuransi syariah. Jadi nasabah bank syariah juga diperbolehkan, tidak ada pembedaan agama selama mematuhi aturan.

Istilah-istilah dalam Asuransi Syariah

Kita bisa menentukan mau ambil asuransi syariah atau konvensional. Tentunya dalam asuransi syariah terdapat kata-kata yang berkaitan dengan ajaran Islam.

Jadi, non-Muslim harus lebih berusaha memahami istilah-istilah di dalamnya.

1. Kewajiban Zakat

Perusahaan asuransi syariah mewajibkan pesertanya untuk mengeluarkan zakat yang besarnya akan disesuaikan dengan besarnya keuntungan yang diperoleh perusahaan. Namun pada asuransi konvensional hal ini tidak berlaku.

2. Klaim Layanan

Dengan asuransi syariah, peserta dapat memanfaatkan perlindungan biaya rawat inap bagi seluruh anggota keluarga. Disini diterapkan sistem menggunakan kartu (cashless) dan membayar semua tagihan yang timbul.

Satu polis asuransi digunakan untuk seluruh anggota keluarga, sehingga premi yang dibebankan oleh asuransi syariah juga akan lebih ringan. Hal ini tidak berlaku untuk asuransi konvensional, di mana setiap orang akan memiliki polisnya sendiri dan premi yang dibebankan akan lebih tinggi.

Baca Juga :  Pengertian Aset

Asuransi syariah juga memungkinkan kita untuk dapat melakukan klaim ganda, sehingga kita akan tetap mendapatkan klaim yang kita ajukan meskipun telah kita peroleh melalui asuransi kita yang lain.

3. Pengawasan

Dalam asuransi syariah, pengawasan dilakukan secara ketat dan dilakukan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) yang dibentuk langsung oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan diberi tugas mengawasi segala bentuk pelaksanaan prinsip ekonomi syariah di Indonesia, termasuk di dalamnya. mengeluarkan fatwa atau undang-undang yang mengaturnya.

Di setiap lembaga keuangan syariah, pasti ada Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang berfungsi sebagai pengawas. DPS ini merupakan perwakilan dari DSN yang bertugas memastikan lembaga telah menerapkan prinsip syariah dengan benar.

DSN ini kemudian bertugas mengawasi segala bentuk operasional yang dilakukan dalam asuransi syariah, termasuk mempertimbangkan segala bentuk harta benda yang dipertanggungkan oleh peserta asuransi, dimana hal tersebut harus halal dan bebas dari unsur haram.

Berbeda halnya dengan asuransi konvensional, dimana asal objek yang dipertanggungkan tidak menjadi masalah, karena yang dilihat perusahaan adalah nilai dan premi yang akan ditentukan dalam perjanjian asuransi.

4. Instrumen Investasi

Ini juga merupakan perbedaan besar dalam asuransi syariah dan konvensional. Dalam asuransi syariah, investasi tidak dapat dilakukan dalam berbagai kegiatan usaha yang bertentangan dengan prinsip syariah dan mengandung unsur haram dalam kegiatannya.

5. Manajemen Risiko

Pada dasarnya dalam asuransi syariah sekelompok orang akan saling tolong menolong dan saling tolong menolong, saling menjamin dan bekerjasama dengan menghimpun dana hibah (tabarru).

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengelolaan risiko yang dilakukan dalam asuransi syariah menggunakan prinsip bagi hasil, dimana risiko dibebankan/dibagikan kepada perusahaan dan peserta asuransi itu sendiri.

Sedangkan asuransi konvensional menerapkan sistem transfer of risk, dimana risiko dialihkan/dibebankan oleh tertanggung (peserta asuransi) kepada perusahaan asuransi yang bertindak sebagai penanggung dalam perjanjian asuransi seperti asuransi kesehatan, asuransi mobil, atau asuransi perjalanan.

6. Pengelolaan Dana

Pengelolaan dana yang dilakukan dalam asuransi syariah bersifat transparan dan digunakan semaksimal mungkin untuk mendatangkan keuntungan bagi pemegang polis asuransi itu sendiri.

Dalam asuransi konvensional, perusahaan asuransi akan menentukan besaran premi dan berbagai biaya lainnya yang bertujuan untuk menghasilkan pendapatan dan keuntungan yang maksimal bagi perusahaan itu sendiri.

Baca Juga :  Kelebihan dan Kekurangan BUMS

7. Sistem Perjanjian

Dalam asuransi syariah hanya digunakan akad hibah (tabarru) yang berdasarkan sistem syariah dan dijamin kehalalannya. Sedangkan pada asuransi konvensional, akad yang dilakukan cenderung sama dengan akad jual beli.

8. Kepemilikan Dana

Sesuai dengan akad yang digunakan, dalam asuransi syariah dana asuransi merupakan milik bersama (seluruh peserta asuransi), dimana perusahaan asuransi hanya bertindak sebagai pengelola dana.

Hal ini tidak berlaku dalam asuransi konvensional, karena premi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi adalah milik perusahaan asuransi, dalam hal ini perusahaan asuransi akan memiliki kewenangan penuh atas pengelolaan dan alokasi dana asuransi.

9. Bagi Hasil

Perjudian dan permainan yang tergolong judi. Perdagangan yang dilarang menurut syariah antara lain: perdagangan yang tidak disertai penyerahan barang/jasa, dan perdagangan dengan penawaran/tuntutan palsu.

Jasa keuangan ribawi, meliputi: bank berbasis bunga dan perusahaan pembiayaan berbasis bunga. Risiko jual beli yang mengandung unsur ketidakpastian (gharar) dan/atau perjudian (maisir).

Memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan dan/atau menyediakan berbagai barang, seperti: barang atau jasa yang haram substansinya (haram li-dzatihi), barang atau jasa yang haram bukan karena substansinya (haram li-ghairihi) sebagai ditetapkan oleh DSN-MUI.

Ketentuan demikian tentunya tidak berlaku dalam asuransi konvensional, karena pada dasarnya dalam asuransi konvensional perusahaan akan melakukan berbagai macam investasi pada berbagai instrumen yang bertujuan untuk mendatangkan keuntungan yang sebesar-besarnya bagi perusahaan.

Hal ini dapat dilakukan tanpa menggunakan/mempertimbangkan apakah instrumen investasi yang dipilih haram atau tidak, karena pada dasarnya dalam asuransi konvensional dana yang dikelola sebenarnya adalah dana milik perusahaan dan bukan milik pemegang polis asuransi, sehingga perusahaan memiliki kewenangan penuh dalam pengelolaannya. penggunaan dana tersebut. , termasuk dalam memilih jenis investasi yang akan digunakan.

10. Dana Hangus

Dalam beberapa jenis asuransi yang dikeluarkan oleh perusahaan asuransi konvensional, kita mengenal istilah “dana hangus” yang terjadi pada asuransi yang tidak diklaim (misalnya asuransi jiwa dimana pemegang polis tidak meninggal dunia sampai masa pertanggungan berakhir).

Namun hal seperti ini tidak berlaku dalam asuransi syariah, karena dana tetap bisa diambil meski ada sebagian kecil yang diakui sebagai dana tabarru.

Baca Juga :  Pengertian Akomodasi

Demikian yang dapat kami sampaikan tentang review asuransi konvensional dan syariah, berikut pengertian, penjelasan dan perbedaan antara asuransi konvensional dan syariah. Semoga bermanfaat, dan terima kasih.

About the Author: Susi Suantika

/* */