Sejarah Masjid Raya

2 min read

Sejarah Masjid Raya – Pada sebuah bangunan masjid di wilayah kota Medan, Indonesia. Masjid ini dibangun dalam tahun 1906 dan selesai dalam tahun 1909.

Bangunan masjid di Medan, Indonesia, yakni telah dibangun dalam tahun 1906 dan selesai tahun 1909. Pada awal pembangunannya, masjid ini diintegrasikan ke dalam kompleks sebuah istana.

Dalam pembahasan kali ini, kami akan menjelaskan secara jelas dan lengkap yakni mengenai Sejarah Masjid Raya. Untuk ulasan selengkapnya, yuk… Simak penjelasan sebagai berikut.

Bagaimanakah Sejarah Bangunan Masjid Raya ?

Sejarah Masjid Raya

Pada sebuah bangunan masjid di kota Medan, wilayah Indonesia. Masjid ini dibangun dalam tahun 1906 dan selesai tahun 1909. Pada awal pembangunannya, masjid tersebut diintegrasikan ke dalam kompleks sebuah istana.

Masjid Medan, yang bangga tidak jauh dari Istana Maimun, merupakan sebuah bangunan yang juga melacak ketenaran Deli. Dalam masjid ini dibangun dalam tahun 1906 pada masa pemerintahan Sultan Makmun Al Rasyid dan masih melayani umat Islam di Medan yang ingin beribadah.

Kubahnya datar dan dihiasi dengan bulan sabit di sebuah bagian atas, yang menjadi dalam ciri gaya Moor yang telah dianutnya. Seperti halnya masjid lainnya, menara yang telah menjulang tinggi tampaknya memperkuat ukuran dan agama masjid ini.

Penggunaan lukisan minyak sebuah dalam bentuk dalam bunga dan tanaman yang telah memuntir di bagian dinding, langit-langit dan pilar stabil di dalam masjid tersebut semakin menunjukkan dalam sebuah nilai tinggi dari jenis seni masjid.

Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam, pemimpin Kesultanan Deli, mulai dalam membangun sebuah Masjid Agung Al Mashun (1 Rajab 1324 Hijriah) pada 21 Agustus 1906.

Baca Juga :  Penemu Radio Pertama

Seluruh bangunan selesai pada 10 September 1909 (25 Syaban 1329 Hijriah) dan digunakan, yang ditandai dengan pelaksanaan shalat Jumat pertama di bagian masjid tersebut. Satu juta gulden dihabiskan untuk seluruh konstruksi.

Sultan dengan sengaja dalam membangun sebuah masjid kerajaan tersebut dengan sangat baik karena, dalam menurut prinsipnya, itu lebih penting daripada ukuran istananya sendiri, Istana Maimun. Sultan tersebut sendiri membiayai pembangunan masjid tersebut.

Bangunan-Masjid-Raya

Namun, dikatakan bahwa Tjong A Fie, seorang pemimpin etnis Cina kota Medan yang sezaman terhadap Sultan Ma’moen Al Rasyid, juga membantu mendanai dalam pembangunan masjid tersebut.

Masjid di bagian pusat dalam Kota Banda Aceh yang kemudian telah diperluas dalam beberapa kali. Yang pertama terjadi dalam tahun 1936. Atas dorongan Gubernur Jenderal A. PH. Van Aken membangun dua kubah di sebuah kiri masjid dan sisi kanan pada masjid.

Selain itu, bangunan masjid diperluas lagi pada tahun 1958-1965. Dalam ekspansi kedua ini, dua kubah dan dua menara ditambahkan di sebuah sisi bagian barat (mihrab). Kelima bangunan kubah tersebut adalah lima unsur terhadap Pancasila.

Dalam tahun 1992, yakni telah dibangun terhadap dua kubah dan lima menara. Selain itu, pada sebuah halaman masjid yang telah diperluas hingga total luas masjid saat ini sekitar 16.070 meter persegi.

Ketika ada tsunami setinggi sekitar 21 meter yang telah menghantam pantai Banda Aceh dalam tanggal 26 Desember 2004, masjid tersebut adalah salah satu yang selamat, meskipun telah rusak di sebuah beberapa bagian bangunan masjid.

Arsitektur

Masjid Raya

Dalam bangunan masjid yakni dapat dibagi menjadi tiga bagian yakni tempat wudhu, ruang utama, dan gerbang masuk. Ruang utama berfungsi untuk tempat sholat, bentuk segi delapan tidak sama sisi.

Baca Juga :  Biografi Raden Patah

Di sisi yang berlawanan yakni yang lebih kecil adalah teras, unit yang menjorok dan menempel. Ada tangga di depan setiap teras. Di beranda yang menghadap ke timur ada lengkungan majemuk, seperti yang ditemukan di bagian bangunan masjid yang bernama Andalusia.

Dari sebuah sisi kanan (timur laut) dan sisi kiri (tenggara) aula doa utama diselingi lorong-lorong. Gang ini memiliki bukaan melengkung (tanpa jendela) yang berdiri di atas sebuah balok dan bukan di pilar.

Dalam sebuah bentuk denah segi delapan di ruang utama digambarkan dalam bentuk kolom silindris di setiap sudut marmer. Kolom tersebut telah mendukung lengkungan Moor dan Arab dalam sebuah dekorasi dan bentuk.

Baca Juga :

Demikian pembahasan kali ini, kami telah menyampaikan secara lengkap dan jelas yakni mengenai Sejarah Masjid Raya. Semoga ulasan ini, dapat berguna dan bermanfaat.

Air Terjun Niagara

Hanny Yulinda
1 min read

Penemu Radio Pertama

Hanny Yulinda
1 min read